Senin, 28 Februari 2011

Misteri foto persahabatan

Susana di SMU 4 Surabaya sangat ramai, karena ini hari pengumuman kelulusan. 100% lulus gak ada yang ketinggalan. Semua siswa kelas 3 beraksi mengungkapkan ekspresinya, coret-coret baju, guyur-guyuran aie sambil tertawa senang, ada juga yangmenangis senang.  ”Win!”Bram memanggil Wina, gadis cantik berambut gelombang rapi  ”Apa Bram?”  ”Nih, tolong foto kami”sambil menyodorkan kamera digital. Wina dibelakang Bram, Indri, Sita dan Taruna bergandengan tangan dan baju penuh coretan.  ”Kalian kaya anak kecil aja gandengan tangan kaya gitu”  ”Alah! Bilang ja lo iri ma persahabatan kami. Lo kan ga punya temen” Taruna nyolot.  ”Oke dah. Nie gua poto” Memotret 4 sekawan itu rasanya ….  ”Thanks, kalo uda jadi gua kasih satu”  ”Ya”Jujur, Wina memang iri pada persahabatan mereka. Mereka berjalan berangkulan meninggalkan Wina                         …………………..  ”Win, kalo uda selese makan ya?”ucap mama Wina diambang pintu  ”Iya ma”2th berlalu setelah kelulusan. Wina ingat persahabatan Taruna, Bram, Indri dan Sita yang membuatnya sangat amat iri.  ”Ah capek makan dulu”Wina kini kuliah di salah satu UNIV besar di Surabaya.                            ………………….Jam 21.00 mata Wina melotot, mulutnya komat kamit memandang foto dari Bram 2th lalu. Ia ingat benar yg ia foto 2th lalu 4 orang. Namun foto ditangannya hanya 3 orang. Mulutnya tak berhenti menyebutkan nama2 temannya.Seingatnya Taruna berdiri di tengah merangkul Indri dan Sita. Tapi dia tak ada.Ia melompat ambil ponsel menghubungi Taruna. Tidak aktif. Tanpa pikir lagi ia menuju mobil, melesat ke rumah Taruna. Penjaganya bilang dia pindah 1th lalu.Wina panik, ia pergi ke rumah Sita karna paling dekat dg Taruna ”Sita!”Wina memanggi8lo Sita yg sedang Menyiram bunga ”Lho Wina, da pa?” ”Taruna pindah kemana?”Sita diam dan menunduk”Sit!! gua tanya Taruna pindah kemana?”menaikan nada suara ”Ta..Taruna”Sita bicara terbata-bata ”Ngomong yg jelas gua gak denger”menggguncang bahu Sita ”Di..dia meninggal 2minggu lalu” ”Apa!!kenapa gak da yg kasih tau gua!!” ”Sorry Win, gua pikir lo gak kan peduli”Wina lemas takbisa bicara apa-apa. Ia pulang dg pikiran kosong. Dikamar ia tak bisa tidur. Esok pagi Wina kembali melihat foto itu, kali ini gambar Indri lenyap. Belum sempat Wina menyelesaikan terkejutnya, dia mendapat tlp bahwa Indri meninggal dibunuh calon suaminya.Wina kalap tak bisa berbuat apa-apa. Usai melayat Wina memasang foto itu di dinding depan tempat tidurnya agar leluasa melihatnya. ”Lo ga pa pa Win”tanya Bram ”Ni karna foto itu Bram” ”Foto apa an Win”Heran ”Nieh”Wina menyodorkan Fota 2th lalu. Bram memandangi foto itu lalu terdiam.                        ………………….Berhari-hari sepeninggal Indri Wina masih tak tenang. Bram juga belum beri kabar tentang foto yg di copy sepeninggal Indri. Malam ini hampir jam 11 malam, Tapi Wina tak bisa tidur meski mencoba berkali-kali. Hampir jam 1 malam, Wina hampir tidurPRAAANK…!!!!Wina terkejut dan ia melihat foto yg digantungnya jatuh kelantai dan pecah. Wina segera mengmbil foto itu melihat sedetik kemudian ia berlari keluar. Sambil menelpon Bram, gambarnya lenyap. ”Ni uda malem lo gila ya Win”bentak Bram dari sebrang ”Lo ga pa pa kan Bram” tanya Wina panikBRANK!!!! ”Bram…Bram lo kenapa Bram”Wina makin kalap seperti kesetanan. Ia memn\bangunkan Orangtuanya minta di antar ke rumah Bram. Ia harus menemui Bram sekarang juga.AAAAAAAAAAAAGRHWina terbangun dari tidurnya dg keringat dingin di tubuhnya ”Cuma mimpi”tanpa ssengaja Wina memandang foto ulang tahunnya di meja sebelah tempat tidurnya. Tapi ia tak melihat dirinya, yg waktu itu di apit ke-2 orangtuanya.

Misteri beringin tua

Sella berjalan sendiri dimalam hari yang itu. Tak ada cahaya terang, hanya ada cahaya lampu yang samar-samar dari ujung jalan. Tiga kali seminggu Sella harus melewati jalan itu. Dia sengaja les malam, karna disiang hari dy harus membantu ibunya menjaga warung.
----
Pada pagi harinya....
"Sella.... nanti pulang sekolah kamu jaga warung sendiri ya. Ibu ada arisan di rumah tante Maia, jangan lama-lama dijalan" kata ibu. " Iya bu " jawabku dan pamit kesekolah. Sekarang hari Kamis, sekolah pulang lebih awal dari hari biasanya. Sesuai pesan ibu aku tak berlama-lama dijalan untuk segera menggantikan ibu menjaga warung.
Setelah sampai rumah
" Ibu tidak lamakan bu, nanti sore Sella ada les"
"Iya nak.... Ibu akan segera pulang seusai acaranya"jawab ibu dan pergi.
Setelah ibu pulang. Pada sore harinya aku pamit kepada ibu seusai Shalat magrib "Hati-hati ya nak, selesai les langsung pulang kerumah jangan lama-lama dijalan itu ini Malam Jumat Kliwonloh..." ucap ibu seperti menakutiku. " Sella kan gx pernah keluyuran bu tenang aja bu aku langsung pulang koq.." bantahku dan pergi meninggalkan rumah.
----
Kira-kira sekitar 150 m dari rumahku ada sebatang pohon beringin tua yang tumbuh dipinggir jalan. Meski sedikit mengganggu jalanan tapi orang-orang engan menebang pohon itu. Phon itu yg membuatku selalu tak nyaman jika harus melewati jalanan itu.
----
Tiba-tiba bulu kudukku berdiri dan aku merinding ketakutan setiap aku melewati pohon itu. Aku mempercepat langkahku tiap kali aku melewati pohon itu dan rasanya nafasku tersendat-sendat. "Heh.. kenapa kamu?" sapa Deri ketika muncul di perempatan jalan. "Hah...." aku sangat terkejut dengan kehadirannya. " Ketakutan yach? Dikejar genderuwo ya apa ... Kuntilanak? ejek Deri melihat wajah ketakutanku. " Takut enak ajah.. aku kan gx percaya sama yang begituan. Lagian cemen bgt'z sich koq gitu ajah takut" jawabku membela diri. Jam menunjukkan pukul 21.00, jam les berakhir dan Pak Jack mengakhiri les.
----
Kembali aku harus melewati jalan itu dan aku harus melewati pohon beringin tua itu. Dimalam itu jalanan terasa sepi tak ada orang satupun yang melewati jalan itu. Tiba-tiba ada suara kressekk..... kresseekk... Tiba-tiba aku menoleh kebelakang seperti ada orang yang mengikutiku.... tapi tak ada siapapun disana. Kini bulu kudukku merinding serasa aliran darahku berhenti. Baru beberapa langkah lagi aku menoleh kebelakang dan hah.... Pak Jack perasaan tadiPak Jack gx ada deh dibelakangku.
----
" Pak Jack mau kemana? "sapaku sambil terbingung- bingung melihat kehadiran Pak Jack. " Kamu takutkan? Ayo bapa antar" . Jawab Pak Jack. Aku hanya bisa terdiam dan terheran-heran dari mana Pak jack tau kalau aku takut. Setibanya di pohon tua itu Pak Jack berhenti. Kata Pak Jack " Sudah yach sampai sini ajah bapa antarnya bapa masih pny keperluan lagi.. " kata Pak Jack. Jawabku " Yach sudh pa makasih yach....pa". Sekejap Pak Jeck menghilang. Aku tak yakin apa yg aku lihat aku pun langsung buru-buru melanjutkan perjalanan. Tiba-tiba aku melihat sesosok tubuh menyeramkan berdiri di dekat batang phon beringin tuaitu. Rambutnya penuh dengan uban.. dibadannya banyak bercak-bercak darahdan wajahnya penuh dengan ulat yang sangat menjijikkan.
----
Kini bukan hanya bulu kudukku yg berdiri tapi badanku seperti membeku di es yang sangat dingin. Sesosok tubuh itu mendekatiku dan akhirnya semuanya gelap... aku terbujur kaku di tanah dan tak tau apa-apa lagi.....
----
Pada saat ku bangun aku sudah ada dikamarku yang nyaman. " Ibu.... ibu.... " teriakku sambil menangis... jawab ibu" Kamu sudah sadar nak." "bu.. Sella melihat huh.. huh.. " tangisku tak mempu berkata-kata. " Sudahlah nak ibu sudah tau koq kamu melihat apa. Mulai besok kamu gx usah les malem-malem lagi" jawab ibu. jawabku " Terus bagaimana jaga warungnya bu.. ?" "tidak usah ibu bisa koq jaga warung sendirian...." "Termakasih ya bu " jawabku. Dari cerita orang - orang yg kudengar ternyata beringin itu ada penghuninya. Dan apa yg ku lihat itu.... Huh.. aku tak mau lagi lewat jalan itu lagi.......

Hantu rumah hantu

Seperti tahun-tahun lalu, tiap kali liburan, di desa selalu ada festival keliling. Di sana ada panggung sulap, sirkus, motor edan, komedi putar, hingga rumah hantu.
Semua pertunjukan dan permainan yang ada di festival keliling itu sudah Wiwi coba kecuali satu, rumah hantu. Wiwi masih takut masuk ke rumah hantu yang menurut Isni dan Neni, kedua sahabatnya cukup mendebarkan.
“Kita bisa merasakan bagaimana ketemu dengan tengkorak, kepala tanpa badan, pocong, dan masih banyak lagi,” cerita Isni setahun yang lalu. “Kita juga bisa teriak-teriak kalau kita mau.”
“Bahkan lari terbirit-birit juga tidak apa-apa. Yang penting kan kita sudah menguji keberanian kita,” imbuh Neni.
Waktu itu Wiwi masih ragu-ragu untuk mencoba. Dia merasa perlu waktu untuk meyakinkan diri, kalau dia benar-benar berani melihat hantu yang ada dalam rumah hantu.
Dan sekarang, setahun sudah berlalu, Wiwi ingin mencoba masuk ke rumah hantu. Mendengar keinginan Wiwi, Isni dan Neni sangat senang. Berarti sekarang sudah ada kemajuan.
“Kan sekarang kita sudah kelas 4, ya?” kata Isni tadi siang, saat pulang sekolah, mencoba memperkuat keinginan Wiwi.
Neni yang berjalan di samping Wiwi hanya mengiyakan.
Habis shalat Magrib mereka bertiga menuju lapangan desa, tempat festival itu berlangsung. Karena ini hari terakhir, jadi ramainya bukan main. Penduduk desa sepertinya tumpah ruah menikmati festival yang digelar tiap tahun itu.
“Kamu di depan ya, Wi,” kata Isni.
Wiwi hanya mengangguk. Sepertinya dia mencoba menahan rasa takut yang luar biasa. Berkali-kali dia menarik napas.
“Ayo masuk!” kata penjaga pintu rumah hantu. “Paling banyak bertiga, ya?” katanya lagi.
Wiwi mengangguk tanpa suara. Tanpa melihat sahabat-sahabat di belakangnya, dia masuk rumah hantu. Dadanya bergetar hebat saat baru melangkah langsung disambut oleh suara erangan raksasa yang terpenjara. Refleks, dia memegang tangan seseorang yang berada di belakangnya.
Lagkah berikutnya, lantai yang diinjaknya seperti bergoyang. Wiwi berusaha berjalan dengan tenang. Dia ingin berteriak, tapi tidak jadi. Dia berhasil melewati lantai bergoyang.
Baru saja bisa menghirup napas, tiba-tiba ada tengkorak manusia yang keluar dari lantai. Wiwi mundur selangkah sambil menjerit.
“Kita harus melewatinya ketika tengkorak itu masuk ke lantai lagi,” kata seseorang di belakang Wiwi.
Begitu tengkorak itu masuk lantai, secepat kilat Wiwi berlari menyeberanginya.
Kali ini Wiwi harus melewati jembatan penyeberangan yang di bawahnya seperti ada air mendidih. Aduh, Wiwi takut sekali. Dia memegang tangan seseorang di belakangnya kuat-kuat.
Selesai melewati jembatan penyerangan, ada kepala tanpa badan, ular yang ingin menerkam, harimau lapar, dan ufh! Sampai juga Wiwi pada bagian terakhir. Bagian yang paling mendebarkan. Dia harus melewati tangan raksasa yang menutupi pintu keluar.
“Kamu pasti bisa, Wi,” kata seseorang di belakangnya.
Wiwi menarik napas dalam-dalam, lalu begitu ada kesempatan dia berlari sekencangnya menuju pintu keluar.
“Hebat! Kamu hebat!” teriak Isni dan Neni begitu Wiwi berhasil keluar. Ternyata mereka sudah berada di luar.
“Tuh, kan, saya bilang apa, kamu pasti bisa,” kata Neni, “Buktinya, kamu berani masuk sendirian,” lanjut Neni membuat Wiwi terbelalak.
“Lho, kalian tidak masuk?” tanya Wiwi.
“Tidak! Kita kan hanya mengantar sampai pintu masuk,” jelas Isni.
“Lalu … lalu … yang tadi di belakangku siapa?” Wiwi makin terbelalak.
Jangan-jangan hantu rumah hantu?!***

Persahabatan jadi Cinta

Tak seharusnya aku merasakan perasaan ini. Aku takut kalau suatu saat nanti, aku kehilangan seseorang yang aku cari selama ini. Tanggal 22 Oktober, seseorang yang tak aku sangka mengungkapkan perasaannya ke aku. Dia adalah sahabat aku sendiri, bahkan dia juga teman dari mantan aku yang baru putus seminggu yang lalu. Tak ku sangka, dia mengatakan kalau dia sangat sayang sama aku. Aku bingung, apa yang harus aku katakan. Dan aku pun bertanya "Sejak kapan kamu suka sama aku?". Dia menjawab, "Saat kita berempat pergi ke Pasuruan. Di saat itulah, aku mulai marasakan sayang sama kamu. Tapi aku tak berani buat ngungkapin semua, karena saat itu kita sudah ada yang memiliki. Dan sekarang kamu sudah tidak ada yang memiliki. Aku berani buat ungkapin perasaan ini."
Aku pun berkata, "Tapi kamu adalah teman dari mantan aku". Dia bilang,"Aku tau, tapi mantan kamu sudah memiliki seseorang di hatinya". Aku terkejut mendengar perkatanya. Tak kusangka, secepat itu mantanku melupakan aku. "Apa jawabanmu?", kata dia. "Sejujurnya aku juga sayang sama kamu. Entah kenapa perasaan itu tiba-tiba muncul, saat kau mengungkapkan perasaanmu. Aku tau,tak seharusnya ini terjadi. Tapi kita akan coba buat ngejalani ni semua". Dengan hati yang berbunga-bunga, "Thank's beib..". Itu sebutan panggilannya dia ke aku.
Waktu terus berputar. Cobaan yang kita lalui begitu besar. Hingga suatu saat, ada seseorang yang memfitnah dia hingga orang tua aku tak menyukai dia. Akhirnya dia memutuskan hubungannya denganku. Dia tak ingin, aku tak menuruti perkataan orang tuaku.
Dan sekarangpun, dia adalah seseorang yang berarti buat aku. Walaupun cuma 1 minggu kita lalui hari-hari yang indah. Tapi itu anugrah terindah buat aku. Aku gak bakal bisa ngelupain dia sampai kapanpun. Aku tau, ini memang aneh, Tapi di saat aku dekat dengan da, aku merasakan nyaman banget. Aku yakin, walapun kita jauh kamu pasti ada buat nemenin dan jagain aku.

Arti Persahabatan

Misha sinkap kembali tabir ingatannya. Sharon. Manis nama itu, semanis orangnya. Dialah kawan karib Misha yang selalu diingatannya. Sudah enam tahun mereka mengenali antara satu sama lain. Kegembiraan dan keperitan hidup di alam remaja mereka melalui bersama. Tetapi semua itu hanya tinggal kenangan sahaja. Misha kehilangan seorang sahabat yang tidak ada kalang-gantinya.

Peristiwa itu berlaku dua tahun yang lalu. Sewaktu itu mereka sedang berada di kantin sekolah. Misha sedang marahkan Sharon kerana mengambil pena kesukaannya tanpa izinya dan menghilangkannya.

Apabila Misha bertanya, dia hanya berkata yang dia akan menggantikannya. Misha tidak mahu dia menggantikannya. Kerana pena yang hilangtu berlainan dengan pena yang akan diganti oleh Sharon. Pena yang hilang itu adalah hadiah daripada Sharon sewaktu mereka pertama kali menjadi sepasang kawan karib.

"Aku tak mahu kau menggantikannya! Pena yang hilangtu berharga bagiku! Misha memarahi Sharon." " Selagi kau tak jumpa penatu, selagi itulah aku tak akan bercakap dengan kau!" Marahnya Misha pada Sharon. Meja kantintu di hentaknya dengan kuat hingga terkejut Sharon. Misha yang mukanya memang kemerah-merahan, bila marah bertambahlah merahlah mukanya. Sharon dengan keadaan sedih dan terkejut hanya berdiamkan diri lalu beredar dari situ. Misha tahu Sharon berasa sedih mendengar kata-katanya itu. Misha tidak berniat hendak melukainya tetapi waktu itu dia terlalu marah dan tanpa dia sedari, mutiara jernih membasahi pipinya.

"Sudah beberapa hari Sharon tidak datang ke sekolah. Aku merasa risau. Adakah dia sakit? Apa yang terjadi" Berkata-kata Misha seorang diri. Benak fikirannya diganggu oleh seribu satu pertanyaan "EH! Aku nak pergi kerumahnyalah" Berbisik Misha di hatinya. Tetapi niatnya berhenti di situ. Dia merasa segan. Tiba-tiba talipon dirumah Misha berbunyi "Ring,riiiiiiiing,riiiiiiiiing,riiiiiiiing"Ibu Misha yang menjawab panggilan itu."Misha, oh, Misha "Teriak ibunya. "Cepat, salin baju. Kita pergi rumah Sharon ada sesuatu berlaku. Kakaknya Sharon talipon suruh kita pergi rumahnya sekarang jugak" Suara ibu Misha tergesa-gesa menyuruh anak daranya cepat bersiap. Tiba-tiba jantung Misha bergerak laju. Tak pernah dia merasa begitu. Dia rasa tak sedap. Ini mesti ada sesuatu buruk yg berlaku. "Ya Allah, kau tenteramkanlah hatiku. Apapun yang berlaku aku tahu ini semua ujianmu. Ku mohon jauhilah segala perkara yang tak baik berlaku. kau selamatkanlah sahabatku." Berdoa Misha pada Allah sepanjang perjalanannya ke rumah Sharon.


Apabila tiba di sana, rumahnya dipenuhi dengan sanak -saudaranya. Misha terus menuju ke ibu Sharon dan bersalaman dengan ibunya dan bertanya apa sebenarnya yang telah berlaku. Ibunya dengan nada sedih memberitahu Misha yang Sharon dilanggar lori sewaktu menyeberang jalan berdekatan dengan sekolahnya." Dia memang tidak sihat tapi dia berdegil nak ke sekolah. Katanya nak jumpa engkau. Tapi hajatnya tak sampai. Sampai di saat dia menghembuskan nafasnya, kakaknya yang ada disisinya ternampak sampul surat masa ada dia gengam ditangannya" terisak-isak suara ibu Sharon menceritakan pada Misha sambil menghulurkan surat yang Sharon beriya-iya sangat ingin memberikannya pada sahabatnya.

Didalam sampul surat itu terdapat pena kesukaanku. Disitu juga terdapat notadaripadnya.


MISHA SHARMIN,
AKU MINTA MAAAF KERANA MEMBUAT KAU MARAH KERANA TELAH MENGHILANGKAN PENA KESUKAANMU. SELEPAS ENGKAU MEMARAHI AKU, AKU PULANG DARI SEKOLAH SEWAKTU HUJAN LEBAT KERANA INGIN MENCARI PENAMU.DI RUMAH AKU TAK JUMPA.TAPI AKU TAK PUTUS ASA DAN CUBA MENGINGATINYA DAN AKU TERINGAT, PENATU ADA DI MEJA SCIENCE LAB . ITUPUN AGAK LAMBAT AKU INGIN KESEKOLAH KERANA BADANKU TAK SIHAT TAPI DENGAN BANTUAN SITI DIA TOLONG CARIKAN. PENATU SITI JUMPA DIBAWAH MEJAMU. TERIMA KASIH KERANA TELAH MENGHARGAI PEMBERIANKU DAN PERSAHABATAN YANG TERJALIN SELAMA SETAHUN. TERIMA KASIH SEKALI LAGI KERANA SELAMA INI MENGAJARKU TENTENG ERTI PERSAHABATAN.

SHARON OSMAN.

Kolam mata Misha dipenuhi mutiara jernih yang akhirnya jatuh berlinangan dengan derasnya.Kalau boleh ingin dia meraung sekuat hatinya. Ingin dia memeluk tubuh Sharon dan memohon maaf padanya tapi apakan daya semuanya dah terlambat. Mayat Sharon masih di hospital. Tiba-tiba dentuman guruh mengejutkan Misha daripada lamunan. Barulah dia sedar bahawa dia hanya mengenangkan kisah silam. Persahabatan mereka lebih berharga daripada pena itu. Misha benar-benar menyesal dengan perbuatannya. Dia berjanji tak akan membenarkan peristiwa ini berulang kembali. Semenjak itu Misha rajin bersolat dan selesai solat dia akan membaca al quran dan berdoa dan bersedekahkan ayat-ayat al quran kepada sahabatnya. Dengan cara ini sahajalah yang dapat Misha balas balik jasanya Sharon dan mengeratkan persahabatanya. Semoga dengan kalam Allah Sharon akan bahagia di alam baza.

Bunga Itu Untuk Kamu

Hatiku ciut. Ibu Nurma memanggil namaku dan memberiku aba-aba untuk maju ke depan kelas. Keringat dingin membasahi tubuhku. Perasaanku tidak menentu. Aku takut sekali dengan hukuman. Oleh karena itulah aku selalu berusaha untuk tidak melanggar peraturan apa pun.
Tapi kini, di hari razia ini, Ibu Nurma telah menemukan sepucuk surat dan setangkai bunga plastik berwana ungu di dalam tasku. Bunga itu indah sekali. Aku suka. Tapi aku tidak menyangka bahwa bunga itu berasal dari tasku.

Tubuhku menggigil. Aku melangkah ke depan dengan tatapan yang tak percaya. Akupun bertanya-tanya dalam hati, siapakah yang telah tega mempermainkan aku. Ingin sekali menangis dan berteriak dan mengatakan bahwa aku tidak tahu. Tapi buat apa aku mengelak. Tak ada gunanya. Buktinya bunga itu ada di dalam tasku tadi. Itu yang dikatakan Ibu Nurma, wali kelasku yang terkenal judes.

“Baca surat ini,” perintah Ibu Nurma. Aku mengambil surat berwarna ungu itu. Teman-temanku bersorak riuh sekali. Aku mulai membaca surat berkertas harum itu dengan diiringi sorakan dari teman-teman.

“Tidak ada yang bersuara selagi Uti membacakan surat ini. Bila ada yang tertawa atau bersuara, maka dia akan menemani Uti menjalani hukumannya kelak.”

Kata-kata Ibu Nurma cukup membuat semua temanku terdiam dan menjadi patung. Mereka menanti aku melanjutkan membaca isi surat tersebut. Suaraku bergetar.

“Uti yang cantik, berminggu-minggu aku memikirkan apa yang bisa aku berikan kepadamu. Aku tak mengerti apa yang kamu suka. Aku bingung sekali. Tapi rasa sayangku padamu menuntunku untuk membuat setangkai bunga ini.
Uti yang pintar, terimalah persembahan ini dengan hati senang. Senyummu kutunggu saat kau menatap bunga ini. Terima kasih, Uti yang lembut hati. Aku sayang kamu.”

Sungguh aku tak tahu siapa yang telah memberiku bunga nan cantik itu. Pada akhirnya Ibu Nurma percaya bahwa aku benar-benar tidak tahu siapa pengirim bunga itu. Akhirnya aku tidak dihukum. Hari itu semua teman-temanku pun ribut dan penasaran siapa pemberi misterius itu.

“Uti, aku minta maaf,” kata Anggi dengan nada bergetar.
“Maaf untuk apa?” tanyaku heran. Anggi adalah temanku yang tak banyak bicara.
“Surat itu dari aku,” kata Anggi singkat. Aku tentu saja kaget.
“Kamu?”
“Ya, bunga itu untuk kamu,” kata Anggi dengan nada takut.
“Kenapa kamu tidak bilang waktu itu?” tanyaku.
“Aku ketakutan sekali. Maafin aku,” kata Anggi memohon.
“Kok kamu sembunyi-sembunyi?” tanyaku penasaran.
“Aku takut kamu tidak suka dengan bunganya. Kata kakakku, aku tidak berbakat membuat bunga. Jadi aku tidak ingin melihat rona penolakan di wajahmu,” terang Anggi.
“Bunga itu cantik sekali. Aku suka kok. Kamu mempunyai bakat yang besar dalam merangkai bunga. Percaya deh,” kataku jujur.
“Benarkah?”
“Yakinlah. Aku letakkan bunga itu di ruang tamu. Mama dan papaku suka juga dengan bunga itu. Ayo, ke rumahku. Biar mamaku tahu siapa pembuat bunga ungu nan indah itu,” ajakku.
“Uti, kamu memang teman yang paling baik. Kamulah orang pertama yang menghargai karyaku. Terima kasih ya,” kata Anggi bergetar. Air matanya mengalir di pipinya yang ranum.
“Sama-sama, Anggi.”

Tak kusangka tak ada yang pernah menghargai karya Anggi selama ini. Pantas saja dia takut aku tolak.

Kamis, 24 Februari 2011

Angin di daun pohon

Alasan mengapa orang-orang memanggilku “Pohon” karena aku sangat baik dalam menggambar pohon. Setelah itu, aku selalu menggunakan gambar pohon pada sisi kanan sebagai trademark pada semua lukisanku. Aku telah berpacaran sebanyak 5 orang wanita ketika aku masih di SMA.
Ada satu wanita yang aku sangat aku cintai, tapi aku tidak punya keberanian untuk mengatakannya. Dia tidak memiliki wajah yang cantik, tubuh yang sexy, dan sebagainya. Dia sangat peduli dengan orang lain dan religius. Tapi dia hanya wanita biasa saja.
Aku menyukainya, sangat menyukainya, menyukai gayanya yang innocent dan apa adanya, kemandiriannya, aku menyukai kepandaiannya dan kekuatannya.
Alasan aku tidak mengajaknya kencan karena aku merasa dia yang sangat biasa dan tidak serasi untukku. Aku juga takut, jika kami bersama semua perasaan yang indah ini akan hilang. Aku juga takut kalau gosip-gosip yang ada akan menyakitinya. Aku merasa dia adalah “sahabatku” dan aku akan memilikinya tiada batasnya dan aku tidak harus memberikan semuanya hanya untuk dia.
Alasan yang terakhir, membuat dia menemaniku dalam berbagai pergumulan selama 3 tahun ini. Dia tau aku mengejar gadis-gadis lain, dan aku telah membuatnya menangis selama 3 tahun.
Ketika aku mencium pacarku yang kedua, dan terlihat olehnya. Dia hanya tersenyum dengan berwajah merah dan berkata “lanjutkan saja…” dan setelah itu pergi meninggalkan kami. Esoknya, matanya bengkak, dan merah…
Aku sengaja tidak mau memikirkan apa yang menyebabkannya menangis, but aku tertawa dengannya seharian. Ketika semuanya telah pulang, dia sendirian di kelas untuk menangis. Dia tidak tahu bahwa aku kembali dari latihan sepakbola untuk mengambil sesuatu di kelas, dan aku melihatnya menangis selama sejaman.
Pacarku yang ke-4 tidak menyukainya. Pernah sekali mereka berdua perang dingin, aku tahu bukan sifatnya untuk memulai perang dingin. Tapi aku masih tetap bersama pacarku. Aku berteriak padanya dan matanya penuh dengan air mata sedih dan kaget. Aku tidak memikirkan perasaannya dan pergi meninggalkannya bersama pacarku. Esoknya masih tertawa dan bercanda denganku seperti tidak ada yang terjadi sebelumnya. Aku tahu bahwa dia sangat sedih dan kecewa tapi dia tidak tahu bahwa sakit hatiku sama buruknya dengan dia, aku juga sedih.
Ketika aku putus dengan pacarku yang ke-5, aku mengajaknya pergi. Setelah kencan satu hari itu, aku mengatakan bahwa ada sesuatu yang ingin kukatakan padanya. Dia mengatakan bahwa kebetulan sekali bahwa dia juga ada sesuatu yang ingin dia katakan padaku. Aku cerita padanya tentang putusnya aku dengan pacarku dan dia berkata tentang dia sedang memulai suatu hubungan dengan seseorang. Aku tahu pria itu. Dia sering mengejarnya selama ini. Pria yang baik, penuh energi dan menarik.
Aku tak bisa memperlihatkan betapa sakitnya hatiaku, tapi hanya bisa tersenyum dan mengucapkan selamat padanya. Ketika aku sampai di rumah, sakit hatiku bertambah kuat dan aku tidak dapat menahannya. Seperti ada batu yang sangat berat di dadaku. Aku tak bisa bernapas dan ingin berteriak namun tidak bisa.
Air mata mengalir dan aku jatuh menangis. Sudah sering aku melihatnya menangis untuk pria yang mengacuhkan kehadirannya.
Ketika upacara kelulusan, aku membaca SMS di handphone-ku. SMS itu dikirim 10 hari yang lalu ketika aku sedih dan menangis.
SMS itu berbunyi, “Daun terbang karena Angin bertiup atau karena Pohon tidak memintanya untuk tinggal?

DIA

Dia adalah Seseorang yang sangat aku sayangi dan aku cintai, seseorang yang selalu memendam permasalahan sendiri, selalu tampak tegar ditengah kerapuhannya. Selalu tersenyum ditengah kemarahannya, hal itu yang membuat aku sayang padanya, tetapi dia juga yang membuat aku terhanyut dalam kesedihan ini.
Dia bernama Andri, aku bertemu dengannya di sebuah acara kemahasiswaan, dia anak yang baik dan humoris, makanya gak heran dalam waktu singkat kami bisa berteman akrab, teman-temanku mengira kami pacaran dan mereka sangat mendukung. Aku hanya tersenyum geli melihat teman-teman ku menjahili dia, terfikir olehku apa benar yang mereka katakan. Tapi aku menepisnya, aku gak mau memikirkan hal itu, karena aku pernah bertekad untuk tidak pacaran sampai aku selesai kuliah dan aku berusaha menjaga itu.
Waktu terus berlalu, aku juga tak mengerti kapan rasa itu datang dan hinggap di hati ini, berawal saat kami bermain ke rumah Hilman, saat itu hilman mengajak ku keluar untuk membeli makanan, kami bercerita banyak hal sampai hilman menyinggung tentang Andri dan pacarnya, aku terperanjat sejenak, tapi cepat-cepat kusembunyikan rasa itu, aku kembali bercerita seolah-olah aku tau kalau dia sudah memiliki pacar, baru aku tersadar hatiku sakit mandengarkan cerita dari hilman.
Sepulang dari rumah hilman, aku lebih banyak diam begitu juga dengannya, dia marah karena aku terlalu lama pergi bersama hilman, tapi bukan itu yang ku pikirkan, aku memikirkan diriku, ada apa denganku, aku hanya temannya, mengapa aku cemburu dan sakit hati kalau dia memiliki pacar, mengapa tidak terpikirkan olehku kalau orang semanis dia pasti ada yang memiliki, dasar bego!. Aku tersenyum sendiri dikamar, mencoba untuk ceria, menganggap hal ini biasa dan pasti bisa ku atasi, aku bertekad pada diriku untuk menjadi teman yang baik, selalu ada disisinya saat suka dan duka. Semangat teriakku pagi itu.
Namun perasaan itu muncul kembali saat kami pergi makan di suatu café, disana dia mencurahkan semua isi hati yang selama ini di pendamnya, aku terkejut melihatnya menangis layaknya seorang anak kecil di hadapanku, belum pernah aku melihat dia seperti itu, tarnyata dibalik keceriaannya selama ini tersimpan luka yang sangat dalam, aku terharu ketika dia mengatakan percaya padaku, aku sangat sayang padanya tapi aku tak mungkin memilikinya.
Setelah kejadian itu dia lebih terbuka padaku tentang pacarnya yang selama ini dia tutupi, aku semakin mengerti bagaimana dirinya, makin memahami apa yang diinginkannya, harapku suatu hari dia memiliki seseorang yang benar-benar mengerti dirinya dan sayang padanya, walau hati ini hancur setiap kali mendengarkan dia bercerita tentang pacarnya. Akan tetapi yang tak ku mengerti, kerap kali dia mengatakan satu hal yang membangkitkan kembali perasaan ku, bahwa dia tak ingin melepaskanku karena aku telah menjadi sebagain dari dirinya, aku bingung, tapi aku juga gak punya nyali untuk bertanya kepadanya bagaimana perasaan dia terhadapku.
Sampai pada puncaknya aku tak kuat membendung perasaanku sendiri, aku mengatakan padanya kalau aku sayang padanya dan aku tau perasaan ini gak boleh terbina, aku hanya sekedar mengeluarkan uneg-uneg yang ada dalam hatiku, terserah dia menganggap apa yang penting hatiku lega, aku tidak akan membahas masalah ini lagi, karena aku berjanji akan selalu menjadi teman dan sahabat yang baik buatnya
Namun rasa sayang dan cinta sudah bersemi dalam hatiku, tak mudah untuk menepisnya, walau aku sudah berusaha, ternyata benar kata pepatah cinta itu datang tiba-tiba walau kita tidak menginginkannya, tapi setelah kita tau mengapa terasa sakit jadinya. Entah mengapa, setelah kejadian itu dia makin perhatian padaku, aku gak pernah tau apa maksudnya karena dia tak pernah mengatakannya padaku, yang aku tau dia memberikan perhatian lebih dari biasanya, seakan-akan menjawab semua pertanyaan tanpa harus diungkapkan, aku gak peduli aku hanya ingin menjalani apa yang aku jalani sekarang, tidak mau berfikir yang muluk-muluk tentang masa depan, apa yang terjadi antara aku dan dia biarlah berjalan seperti sekarang ini, tanpa kata-kata tapi saling mengerti dan memahami maksud satu dengan yang lain, walau entah sampai kapan hal ini akan berlanjut, akupun tak tau. Tapi biarlah kisah ini berjalan seiring dengan waktu yang kami pun tak pernah tau akhir dari semua ini, tapi aku tetap berharap semoga…….